Showing posts with label Dunia Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Dunia Pendidikan. Show all posts

KUMPULAN KATA-KATA BIJAK | VANBLOGGER

Gambar1

Lebih baik dibenci karena apa yang Anda miliki daripada disukai atas sesuatu yang tidak Anda punyai.” Andre Gide (1869–1951), penulis dan humanis Prancis, peraih Nobel Sastra 1947″

Pengembangan diri adalah nama permainan; tujuan utama Anda adalah menguatkan diri, bukan menghancurkan lawan.” Maxwell Maltz (1927–2003), motivator dan ahli bedah plastik asal Amerika Serikat”

Janganlah takut pada masa depan, jangan pula menangis untuk masa lalu.” Percy Bysshe Shelley (1792–1822), pujangga Inggris”

Jika kau hanya melakukan apa yang kau tahu bisa kau kerjakan, kau tidak akan bisa berbuat lebih.” Tom Krause (1934), motivator, guru, dan pelatih”

Setiap orang bisa mengkritik, mengecam, dan mengeluh. Tapi hanya orang berkarakter yang bisa mengontrol diri untuk memahami dan memaafkan.” Dale Carnegie (1888–1955), penulis dan pengajar asal Amerika Serikat“

Bertempur dan menaklukkan musuh dalam peperangan bukanlah kehebatan paling tinggi; kehebatan tertinggi terjadi ketika Anda mampu menghentikan musuh tanpa perlawanan.” Sun Tzu, penulis dan filsuf China”

Keraguan hanya bisa dihilangkan dengan tindakan.” Johann Wolfgang von Goethe (1749–1832), dramawan dan novelis asal Jerman”

Saya tidak malu mengakui kebodohan saya terhadap apa yang tidak saya ketahui.” Marcus Tullius Cicero (106–43 SM), pengacara, penulis, cendekiawan Romawi Kuno”

Jika Anda bisa tertawa bersama, Anda pun mampu bekerja bersama.” Robert Orben, pesulap dan penulis komedi asal Amerika Serikat”

Pemimpin yang efektif bukan soal pintar berpidato dan mencitrakan diri agar disukai; kepemimpinan tergambar dari hasil kerjanya, bukan atribut-atributnya.” Peter F Drucker, pendidik dan penulis asal Amerika Serikat”

Muda tidak tergantung usia.” Pablo Picasso, seniman dan pelukis Spanyol (1881–1973)”

Manusia cenderung melupakan kewajibannya daripada haknya” Indira Gandhi (1917-1984), Perdana Menteri India”

Salah satu kebutuhan manusia yang paling dasar adalah memiliki seseorang untuk bertanya di manakah Anda saat Anda tidak pulang ke rumah malam hari.” Margaret Mead (1901–1978), antropolog Amerika Serikat”

Kita harus merangkul rasa sakit dan membakarnya sebagai energi dalam perjalanan hidup kita.” Kenji Miyazawa (1896-1933), pujangga dan penulis Jepang”

Mengatasi kesulitan adalah pengalaman paling menyenangkan dalam hidup.” Arthur Schopenhauer (1788-1860),

Saya curiga terhadap hal-hal yang tidak disampaikan secara terbuka; karena di sanalah sumber segala kekacauan.”Jean-Paul Sartre (1905–1980), filsuf dan penulis Prancis”

Kebahagiaan akan kehilangan makna jika tidak diimbangi oleh kesedihan.” Carl Gustav Jung (1875–1961), psikiater asal Swiss”

Cinta itu seperti gempa bumi—tidak bisa diprediksi,sedikit menakutkan, tapi ketika bagian yang paling sulit sudah terlewati kamu akan menyadari betapa benar-benar beruntungnya kamu.” Johnny Depp, aktor Amerika Serikat”

Pengetahuan diperoleh dengan belajar, kepercayaan didapat dengan keraguan, keahlian dengan latihan, dan cinta diraih dengan cinta.” Thomas S Szasz, psikolog Hungaria”

"Penghargaan paling tinggi bagi seorang pekerja keras bukanlah apa yang dia peroleh dari pekerjaan itu, tapi menjadi seperti apa dia dengan kerja kerasnya itu.” John Ruskin, penulis (1819–1900), arsitek dan kritikus seni asal Inggris”

Agar bisa eksis harus berubah, agar bisa berubah harus dewasa, untuk menjadi dewasa jadilah diri sendiri tanpa berhenti.” Henri Bergson (1859–1941), filsuf Prancis, peraih Nobel Sastra 1927″

Jika Anda tidak menaikkan pandangan, Anda akan mengira Andalah titik tertinggi.” Antonio Porchia (1886–1968), pujangga Italia”

Lebih banyak Anda membaca, lebih banyak hal yang Anda ketahui. Lebih banyak hal yang Anda pelajari, lebih banyak tempat yang Anda kunjungi.” Dr Seuss, penulis dan kartunis Amerika Serikat”

Janganlah mengambil sisi yang salah dari sebuah argumen hanya karena musuh Anda telah mengambil sisi yang benar.” Baltasar Gracian (1601–1658), filsuf Spanyol”

Sebuah tujuan tanpa perencanaan hanya akan menjadi harapan.” Antoine de Saint-Exupery (1900–1944), Penulis Prancis”

Kamu tidak mencintai seorang perempuan karena dia cantik, tapi dia cantik karena kamu mencintainya.’’ Ivan Panin (1855–1942), ahli matematika Rusia”

Barang siapa yang tidak mampu memberi apa-apa, dia juga tidak bisa merasakan apa-apa.” Friedrich Nietzsche (1844—1900), filsuf klasik Jerman”

GURU TELADAN

Saat break ngajar, semua guru dan staf pada ngumpul di kantor.. waktunya ngerumpi neh!?
Berbagai topik plus new gosip bermunculan, maklum kebetulan di sekolah tempat aku ngajar prosentase kaum hawa lebih dominan ketimbang yang “batangan”.
Sambil kadang ikut senyum2 aku terus klak klik laptop di depanku. Sambil kerja, sambil ngeblog, sambil chatting.. samar2 aku mendengar mereka membahas tentang kriteria “guru teladan..” wew, kalau untuk topik yg satu ini,aku g brani ikutan nimbrung terlalu dalam. Ya aq sadar dirilah, aku khn tipe guru 98... kadang masuk jam 9 kadang masuk jam 8 ( jangan ditiru ea..he..he.. )
Seperti apa sih kriteria guru teladan itu? Nurut aku sih, guru sudah sepatutnya menjadi teladan.. Sesuai dengan namanya Guru berarti di Gugu dan di Tiru. Pada artikelku sebelumnya, disitu aku tulis bagaimana besarnya pengaruh bahasa dan tingkah laku guru terhadap perkembangan anak murid. (Baca: Guru Kencing Berdiri,MuridKencing Berlari)
Sekarang kembali kepada kita.. sudahkah kita menjadi guru teladan?????????
Hmmmmm....jangankan mau jadi guru teladan, disiplin kerja aja aku belum beres.. maklum, aku khn “guru tela...............njur.(senyum2 pait).

GURU KENCING BERDIRI, MURID KENCING BERLARI

Sejak dinobatkan sebagai guru, terlepas dari status pegawai negeri atau honorer. Mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, menjadi bahan perhatian dan kajian oleh seluruh mata yang memandang terutama siswa-siswinya. Saat guru menginjakkan kaki di lingkungan sekolah, sejak saat itu juga siswanya akan selalu mengamati setiap gerak-geriknya, setiap tutur katanya, dan bahkan sampai ciri khas bau badannya. Guru tidak akan menyangka bahwa setiap apa yang dilakukan dan dikatakan baik sadar maupun tidak akan berbekas pada siswanya dan entah kapan akan terhapus dari sanubari siswa.
Satu hal Dari sejuta hal yang dimiliki guru serta sangat mempengaruhi pembentukan karakter siswa adalah cara guru berbicara. Pemilihan kata, intonasi, mimik, sampai gerak tubuh yang mengikuti bicara guru merupakan “alat peraga” yang memberikan suatu sinyal rasa yang bisa dinikmati enak, tidak enak, baik dan tidak baik oleh si pendengar (siswa). Misalnya, guru yang berbicara terbatah-batah akan membuat siswa lamban dalam berfikir. Guru yang berbicaranya cepat dan keras membuat siswa mudah lelah serta bosan. Guru yang berbicara jorok membuat siswa ingin berbicara jorok dan akhirnya berbuat jorok.
Lihatlahkah kebelakang, sosok guru-guru masa lampau yang mengajar dari hati. Mengajar dari sanubari yang bersih, kata-katanya penuh wibawa, kalimatnya penuh santun, dan ceritanya sarat makna. Tidak hanya ke siswa saja mereka bercira dengan hati, namun dengan sesama guru  mereka tetap memegang prinsip bicara dari hati. Bicara yang mengutamakan keluruhan budi pekerti. Pemilihan katanya penuh kasih sayang, penuh penghormatan, dan terhindar dari kata-kata tak bernilai apa lagi seronok.
Lihatlah hari ini, sosok guru-guru kita! Lupa dengan siapa dia bicara, bahkan dengan sadarnya dan tidak ada rasa malu berbicara dengan kata-kata yang tiada guna, kalimat yang menyakitkan, serta cerita yang menjatuhkan harkat martabat dirinya sendiri sebagai orang yang harusnya digugu dan ditiru. Di kelas, kata-katanya bukan membuat siswa termotivasi malah terbalik 1800, setiap perkataanaya membuat siswa lebih banyak menyalahkan dan meyakini bahwa diri siswa bodoh. Lebih banyak mengecam dan mengancam bukan menasehati. Lebih banyak berteriak bukan dengan lemah lembut. Saat berbicara dengan rekan guru, bahasa yang digunakan sudah menggunakan bahasa yang tidak layak didengar oleh siswa yang ada di sekitarnya.
Tak perlu guru bermimpi untuk merubah seluruh kondisi mental bangsa ini. Cukuplah dia melakukan perubahan pada diri dengan mulai berbicara  dari hati, berbicara yang bermutu, berbicara yang santun, berbicara yang penuh dengan semangat  kebaikan, berbicara dengan didasari ilmu dan menjaga setiap kata yang ke luar dari mulutnya. Bukankah lebih baik diam dari pada berbicara yang tiada guna?. Bukankan diam itu emas ? dengan demikian siswa yang merupakan cikal bakal penerus bangsa ini akan menjadi generasi yang berkarakter mulia karena memiliki guru-guru yang mulia (air hujan jatuhnya kepancuran juga). Agar lebih yakin coba cari jawaban kenapa Allah menciptakan 2 mata, 2 telinga, 2 tangan, 2 kaki, 2 lubang hidung, tapi hanya 1 mulut, sekali lagi hanya 1 mulut??? Semoga guru kita menjadi sosok yang lebih baik. Amiin

PENGEMBANGAN PENDIDIKAN

Dalam konteks keindonesiaan, pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana dan proses pembelajaran agar peserta secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, bangsa dan negara.
Karena itu,pendidikan tidak bisa lagi diartikan sekadar sebagai transfer ilmu pengetahuan, atau dan pemberian ketrampilan semata. Pendidikan lebih  bersifat proses transformasi dalam berbagai dimensinya yang dapat mengantarkan peserta didik menyadari diri mereka sebagai manusia seutuhnya dan mengaktualisasikan fakultas-fakultas kedirian itu secara kreatif, kritis, dan bertanggung jawab.
Pendidikan perlu dikembangkan menjadi wahana yang mengantarkan manusia –meminjam ungkapan Fazlur Rahman –sebagai human as individual dan human in society.
Sebagai individual, manusia harus memiliki kemampuan untuk mengembangkan potensi diri dan alam secara arif, kreatif, dan kritis. Pada saat yang sama, ia harus menjadi manusia dalam masyarakat yang memiliki kapabalitas untuk merajut solidaritas, dan kerjasama membangun kehidupan ideal yang merepresentasikan kesejahteraan individual dan sosial, serta kesejahteraan umat manusia lahir dan batin.
Untuk pengembangan pendidikan tersebut, rekonstruksi, reformulasi, pembenahan atau sejenisnya perlu mendapat prioritas utama. Pendidikan dialektis Platon hingga pendidikan karakter yang saat ini sering diwacanakan mesti ditoleh untuk menjadi bagian dalam pengembangan pendidikan. Demikian pula pendekatan holistik terhadap ilmu pengetahuan, sangat urgen untuk diapresiasi secara kritis.
Semua itu perlu menjadi bahan untuk pengembangan dengan harapan lembaga pendidikan menjadi tempat di mana peserta didik benar-benar at home berada dalam proses, kondisi dan suasana yang ia jalani. Di saat yang sama, ia terpacu untuk menggapai dan membumikan segala bentuk dan nuansa kebaikan dan kebenaran pendidikan.

GURU, UJUNG TOMBAK PENDIDIKAN

Untuk mengembangkan pendidikan yang berkualitas, guru memiliki tanggung jawab yang sangat besar. Sebab guru bukan sekadar pengajar yang bertugas menyampaikan bahan ajar, atau memberikan ketrampilan. Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik.
Sebagai pendidik profesional, selain berhak mendapat penghasilan atas profesi yang disandangnya, ia (yang sama sekali tidak boleh diabaikan) mempunyai tanggung jawab dalam mengemban tugasnya dan mutlak memiliki kompetensi mulai dari pedagogik, kepribadian, sosial, hingga profesional. Dengan kompetensi itu, guru niscaya dapat mengantarkan anak dan peserta didik ke dalam kondisi yang dapat mengarahkan dan memberikan peluang yang seluas-luasnya untuk menjadi manusia mandiri, dewasa, berwawasan luas, tidak kehilangan identitas diri, dan dapat hidup bermartabat dalam zaman dan tempat di mana ia berkembang.
Dalam perspektif Islam, guru bukan hanya bertugas sebatas ta’lim semata, tapi juga tarbiyyah.Guru adalah mu-addib, yang bertugas mengasuh, memberikan ketrampilan, dan mendidik secara profesional. Melalui tangannya, peserta didik diupayakan semaksimal mungkin dapat memiliki kecerdasan dalam berbagai dimensinya, intelektualitas, emosional-spritualitas, dan skill.
Pencapaian ke arah sana memerlukan kesiapan guru untuk terus mengembangkan dirinya. Dari saat ke saat, guru perlu memacu dirinya untuk terus mengembangkan keilmuan, metode mendidik, dan pengayaan wawasan, serta sebagai avant garde dalam pengembangan dan pembumian al-akhlaq al-shalih.
Pembumian al-akhlaq al-shalih hendaknya menjadi misi utama dalam pengembangan pendidikan karena menguatnya dampak negatif globalisasi, sains dan teknologi secara khusus berpulang pada model pendidikan yang dewasa ini cenderung meminggirkan spiritualitas. Pada sisi ini guru agama, dan guru pada lembaga pendidikan yang berbasis agama memiliki tugas yang lebih berat tinimbang guru-guru di luar itu.
Melalui pengembangan kualitas pendidikan, yang salah satu simpul utamanya adalah peningkatan kualitas guru (agama), generasi-generasi penerus yang mumpuni diharapkan akan tumbuh berkembang di masa depan. Mumpuni dalam arti memiliki rasionalitas yang kreatif dan kritis, ketrampilan yang memadai, dan jati diri yang kukuh. Dengan modal itu, bangsa ini insha Allah akan memiliki daya saing yang kuat yang memberikan pijakan kuat untuk menghadapi globalisasi secara arif dan viable, serta tidak kehilangan identitas diri sebagai bangsa Indonesia yang taat beragama dalam arti seluas-luasnya.
Insha Allah..

NASIB GURU SD

Kesejahteraan guru dilihat dari kesejahteraan sosial yang dimiliki guru untuk memenuhi standar hidupnya yang dapat dilihat dari Human Development. Dalam bab ini penulis mengunakan indikator kesejahteraan yang diberian oleh UU RI No. 6 Tahun 1974 tentang kesejahteraan sosial. Dimana dalam UU tersebut, kesejahteraan sosial didefinisikan sebagai suatu tata kehidupan dan penghidupan sosial materiil maupun spirituil yang diliputi oleh rasa keselamatan, kesusilaan, dan ketentraman lahir batin yang memungkinkan bagi setiap warga negara untuk mengadakan usaha pemenuhan kebutuhan-kebutuhan jasmaniah, rohaniah, dan sosial yang sebaik-baiknya bagi diri, keluarga, serta masyarakat dengan menjunjung tinggi hak-hak asasi serta kewajiban manusia sesuai dengan pancasila. Definisi ini juga sejalan dengan indikator dalam Human Development yang diajukan UNDP. 

Dari hasil temuan lapangan yang penulis peroleh, dapat dilihat bahwa kesejahteraan guru di MI Darul Ulum masih tergolong sangat rendah hingga saat ini. Dimana penghasilan yang diperoleh guru di MI Darul Ulum sebesar RP 300.000,- hingga Rp 500.000 tiap bulannya. Penghasilan ini masih masih di bawah Upah Minimum Regional (UMR) DKI jakarta yang sekarang ini sudah mencapai RP 1.000.000,-. Hal ini diperparah dengan keadaan guru yang ada di madrasah lainnya di daerah Cilandak Jakarta Selatan. Jika dibandingkan dengan kesejahteraan buruh pabrik, kesejahteraan guru di MI Darul Ulum masih jauh di bawah kesejahteraan buruh pabrik. Walaupun pemerintah telah memberikan tunjangan kesra yang besarannya menyamapi Rp 200.000,- perbulan yang diberikan kepada guru yang diberikan setiap enam bulan sekali, penghasilan guru masih kalah dari penghasilan buruh pabrik. Dari hasil temuan lapangan, kesejahteraan guru di MI Darul Ulum dalam hal pemenuhan kebutuhan sehari-hari hanya akan terpenuhi 2 bulan dalam setahun. Dimana guru di MI Darul Ulum mendapatkan penghasilan tambahan melalui tunjangan yang diberikan oleh madrasah dan tanda terima kasih dari orang tua murid ketika penerimaan raport murid. Untuk menambah penghasilannya, sorang guru harus mencari pekerjaan tambahan di tempat lain, seperti mengajar di sekolah lain, dan mengajar privat. Dari segi penghasilan yang diperoleh ini, guru di MI Darul Ulum masih belum mendapatkan ketentraman lahiriyah untuk memungkinkannya melakukan usaha pemenuhan kebutuhan jasmaniah, rohaniah, serta kebutuhan sosial bagi dirinya sendiri apalagi bagi orang lain di sekitarnya, seperti keluarga dan masyarakat sekitarnya.

Dari segi ketentraman secara batiniyah, guru juga belum dapat merasakannya. Dimana guru, khususnya guru di MI Darul Ulum. Dimana dari hasil temuan lapangan yang penulis peroleh, informan penulis mengalami ketidakpastian dalam hal pengangkatan menjadi PNS dan dalam hal sertifikasi guru. Hal ini disebabkan oleh buruknya birokrasi pemerintah selama ini. Hal ini diperparah lagi dengan adanya isu KKN yang mengharuskan setiap guru yang akan diangkat menjadi PNS “menyumbang” sejumlah uang yang tidak sedikit dengan alasan biaya administrasi. Dalam konteks MI Darul Ulum, ketidakpastian yang mempengaruhi ketentraman batin ini hanya terjadi pada masalah gaji yang diberikan oleh pihak madrasah kepada guru tiap bulannya. Hal ini tidak terlepas dari keadaan MI Darul Ulum yang memprihatinkan dari aspek pendanaan madrasah. Dengan kata lain, MI Darul Ulum terpaksa tidak dapat memenuhi kesejahteraan guru-gurunya dengan memberikan gaji yang pasti tiap bulannya. Oleh karena itu, pihak madrasah dan yayasan telah memberikan gamabaran umum apabila bekerja di MI Darul Ulum kepada calon guru yang ingin bekerja di MI Darul Ulum sejak awal sebelum menjadi guru di MI Darul Ulum.
Dengan penghasilan yang tidak tetap dan minim serta ketidakpastian yang dialami oleh setiap guru, dapat dikatakan bahwa guru di MI Darul Ulum tidak memiliki akses yang bebas untuk mendapatkan kesempatan dalam berbagai aspek sosial, salah satunya adalah mendapatkan kesempatan memperoleh sumber daya materiil untuk memenuhi standar kehidupan. Guru di MI Darul Ulum sangat terbatas aksesnya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang sesuai dengan ekspektasi mereka dan lingkungan sekitarnya. Dimana guru MI Darul Ulum hanya merasakan keadaan yang lebih baik sebanyak 2 bulan dalam setahun tiap tahunnya. Hal ini juga menjadikan guru tersebut tidak melakukan usaha meningkatkan kualitasnya karena mereka lebih bersifat pragmatis dalam prioritas kebutuhan mereka. Dengan demikian, profesi guru, khususnya di MI Darul Ulum, masih belum mampu mengangkat kesejahteraan sosial di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh buruknya peran pemerintah dalam memenuhi kesejahteraan guru secara umum di Indonesia. Selanjutnya, yang menjadi perhatian dari buruknya peran pemerintah tersebut adalah perealisasian sertifikasi guru dan pengangkatan guru tidak tetap menjadi PNS secara cepat guna meningkatkan kesejahteraan guru yang akan berdampak pada kualitas hidup serta profesi guru ke depannya. Dimana salah satu informan penulis masih meragukan akan kecekatan pemerintah dalam merealisasikan program yang diadakan dalam peningkatan kesejahteraan guru.

Dari gambaran kesejahteraan guru di MI Darul Ulum di atas, penulis akan berusaha menggambarkan bentuk eksklusi sosial yang dialami guru di MI Darul Ulum berdasarkan tiga pilar utama dalam pembangunan, yaitu state, market, dan society. Dimana eksklusi sosial secara umum dapat dikatakan sebagai salah satu bentuk dari ketidakseimbangan yang terjadi dalam suatu masyarakat. Sehingga dapat dikatakan bahwa bentuk eksklusi sosial yang dialami oleh guru di MI Darul Ulum dapat terlihat dari ketidakpastian serta kecilnya penghasilan guru di MI Darul Ulum dan ketidakpastian yang disebabkan oleh pemerintah dalam berbagai hal, salah satunya dalah ketidakpastian dalam hal pengangkatan guru menjadi PNS. Dimana dalam hal ini, guru menjadi korban dari pemerintah yang memiliki peran yang buruk dalam proses pembangunan, khususnya pembangunan pendidikan. Selain itu, guru juga menjadi korban dari keadaan MI Darul Ulum yang memprihatinkan karena ketidakpekaan pemerintah dalam melihat kondisi lembaga pendidikan, khususnya MI Darul Ulum yang tidak terbantukan hanya melalui dana BOS yang diberikan oleh pemerintah saja. 

dengan kata lain, dapat dilihat bahwa guru sebagai bagian dari society mengalami eksklusi sosial secara ganda yang dilakukan oleh pemerintah sebagai state dan MI Darul Ulum sebagai market. Proses eksklusi yang dialami guru tersebut berpangkal pada kebobrokan ketidakpekaan pemerintah yang direpresentasikan oleh Departemen Agama terhadap masalah pendidikan yang ada, khususnya masalah yang terkait dengan kesejahteraan guru serta kualitas lembaga pendidikan kecil yang secara tidak langsung berdampak pula kepada kesejahteraan guru yang bekerja di lembaga pendidikan tersebut. Dimana MI Darul Ulum terpaksa menjadikan guru sebagai korban dari proses eksklusi sosial dalam konteks ini karena ketidakmampuan MI Darul Ulum dalam mendapatkan sumber daya untuk memberikan imbalan yang cukup kepada guru-guru yang bekerja di MI Darul Ulum.

Sedangkan menurut Byrne, eksklusi sosial dapat diartikan sebagai proses multi-dimensional dalam berbagai bentuk eksklusi, seperti partisipasi dalam pembuatan kebijakan dan proses politik, akses terhadap pekerjaan dan sumber daya material, dan integrasi ke dalam proses kultural. Dimana definisi tersebut menekankan pada ketidaksetaraan dalam segi material dan power sebagai aspek penting dalam terjadinya proses eksklusi sosial pada seseorang atau kelompok. Dengan mengacu pada pemikiran Byrne tersebut, proses eksklusi sosial yang dialami oleh guru di MI Darul Ulum terjadi di berbagai aspek, diantaranya adalah: pertama, aspek ekonomi, dimana guru di MI Darul Ulum tidak memiliki penghasilan yang tetap serta tidak mampu fokus pada pekerjaannya sebagai guru profesional karena harus mencari kerja tambahan lainnya untuk meningkatkan kesejahteraannya guna meningkatkan kualitas hidupnya.

Kedua, aspek sosial politik, dimana guru di MI Darul Ulum memiliki akses yang terbatas dalam kehidupan sosial politik yang ada di lingkungannya. Aspek sosial disini maksudnya guru tersebut tidak memiliki waktu yang banyak untuk bersosialisasi dengan lingkungannya setiap harinya karena harus bekerja di berbagai tempat yang menghabiskan tenaga secara fisik maupun mental. Karena menjadi guru merupakan kegiatan yang melibatkan tenaga dan pikiran dalam prosesnya. Selain itu, dalam konteks yang lebih luas, guru teralienasi terhadap kehidupan sosialnya serta citra profesi guru merosot di mata masyarakat yang akan berdampak pada jatuhnya martabat guru di mata masyarakat yang selalu menginginkan pendidikan yang berkualitas. Sedangkan aspek politik maksudnya guru memiliki akses terbatas dalam pembuatan kebijakan yang terkait denga pendidikan dan kesejahteraan guru. Dimana guru hanya bisa menerima saja tanpa memberikan masukan kepada pembuat kebijakan dalam menentukan kebijakan yang terkait dengan pendidikan maupun kesejahteraan guru. Dengan kata lain, guru tidak memiliki power yang kuat untuk mempengaruhi pemerintah dalam membuat kebijakan yang terkait dengan pendidikan dan kesejahteraan guru. Hal ini terlihat dari beberapa kasus yang terjadi selama ini dalam dunia pendidikan di Indonesia yang melibatkan guru, diantaranya adalah Nurlaila yang ingin mempertahankan sekolahnya dari penggusuran harus rela dipecat sebagai guru PNS oleh pemerintah serta aksi Winorno Surakhmad yang membaca puisi sinfirian akan pendidikan nasional di depan Jusuf Kalla disambut dengan kemarahan Jusuf kalla dalam aksi damai tersebut.

Dari penjelasan di atas, dapat terlihat bagaimana guru mengalami eksklusi sosial di banyak aspek kehidupan yang mengakibatkan mereka tidak mampu bekerja secara profesional dalam satu lembaga pendidikan yang ada. Eksklusi sosial yang dialami oleh guru, khususnya guru di MI Darul Ulum, ini akan berdampak pada buruknya kualitas pendidikan nasional. Hal ini tidak lain dari buruknya peran pemerintah dalam merealisasikan kebijakan yang telah ada secara tepat dan terarah, khususnya kebijakan dalam pendidikan. Seperti yang telah kita ketahui, sudah banyak kebijakan yang dibuat pemerintah dalam dunia pendidikan yang mampu meningkatkan kualitas pendidikan nasional apabila direalisasikan secara tepat dan terarah, diantaranya adalah UU NO. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional dan UU No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen. Selain itu, buruknya peran pemerintah dalam hal ini juga terlihat dari lamanya proses pengangkatan guru swasta tidak tetap yang telah terdaftar menjadi guru kontrak Departemen Agama menjadi PNS dan kekhawatiran akan lama dan rumitnya perealisasian sertifikasi guru yang sedang dilakukan oleh pemerintah saat ini.

"ORAL SEX' DITINJAU DARI SUDUT HUKUM ISLAM

Hingga saat ini, memang tidak sedikit masyarakat muslim yang masih mempertanyakan tentang halal dan tidaknya jima' atau berhubungan suami istri dengan cara oral. Mitos yang banyak berkembang selama ini, melakukan hubungan dengan cara memasukkan alat kelamin ke dalam mulut pasangan itu dianggap sama seperti kelakuan orang kafir, sehingga hukumnya haram. Benarkah?

Ibnu Taymiyyah berpendapat, selain ciuman dan rayuan, unsur penting lain dalam pemanasan adalah sentuhan mesra. Bagi pasangan suami istri, seluruh bagian tubuh adalah obyek yang HALAL untuk disentuh, termasuk kemaluan. Terlebih jika dimaksudkan sebagai penyemangat jima’.

Nashirudin Al-Albani, mengutip perkataan Ibnu Urwah Al-Hanbali dalam kitabnya yang masih berbentuk manuskrip, Al-Kawakbu Ad-Durari, “Diperbolehkan bagi suami istri untuk melihat dan meraba seluruh lekuk tubuh pasangannya, termasuk kemaluan. Karena kemaluan merupakan bagian tubuh yang boleh dinikmati dalam bercumbu, tentu boleh pula dilihat dan diraba. Diambil dari pandangan Imam Malik dan ulama lainnya.”

Berkat kebesaran Allah, setiap bagian tubuh manusia memiliki kepekaan dan rasa yang berbeda saat disentuh atau dipandangi. Maka, untuk menambah kualitas jima’, suami istri juga diperbolehkan pula menanggalkan seluruh pakaiannya. Dari Aisyah RA, ia menceritakan, “Aku pernah mandi bersama Rasulullah dalam satu bejana…” (HR. Bukhari dan Muslim).

Untuk mendapatkan hasil sentuhan yang optimal, seyogyanya suami istri mengetahui dengan baik titik-titik yang mudah membangkitkan gairah pasangan masing-masing. Maka diperlukan sebuah komunikasi terbuka dan santai antara pasangan suami istri, untuk menemukan titik-titik tersebut, agar menghasilkan efek yang maksimal saat berjima’.

Satu hal lagi yang menambah kenikmatan dalam hubungan intim suami istri, yaitu posisi bersetubuh. Kebetulan Islam sendiri memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada pemeluknya untuk mencoba berbagai variasi posisi dalam berhubungan seks. Satu-satunya ketentuan yang diatur syariat hanyalah, semua posisi seks itu tetap dilakukan pada satu jalan, yaitu farji (vagina). Bukan yang lainnya. Allah SWT berfirman, “Istri-istrimu adalah tempat bercocok tanammu, datangilah ia dari arah manapun yang kalian kehendaki.” QS. Al-Baqarah (2:223).

Demikian halnya dengan Sheikh Muhammad Ali Al-Hanooti, mufty, dalam Islamawarness.net menegaskan bahwa oral sex diperbolehkan dalam Islam. Ali Al-Hanooti menegaskan bahwa yang diharamkan dalam jima' hanya ada tiga hal, diantaramya: Anal sex, berhubungan sex saat istri sedang haid atau menstruasi dan sex pasca istri melahirkan (masa nifas). Sedangkan di luar ketiga hal itu, hukumnya halal.

Hal yang sama juga diungkapkan : Ustadz Sigit Pranowo, Lc di eramuslim.com. Dalam sebuah kajian konsultasi yang membahas tentang sex oral, Sigit mengatakan bahwa Hubungan seksual antara pasangan suami istri bukanlah hal yang terlarang untuk dibicarakan didalam Islam. Namun, bukan pula hal yang dibebaskan sedemikian rupa bak layaknya seekor hewan yang berhubungan dengan sesamanya.

Islam adalah agama fitrah yang sangat memperhatikan masalah seksualitas karena ini adalah kebutuhan setiap manusia, sebagaimana firman Allah swt,”Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, Maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.” (QS. Al Baqoroh : 223)

Ayat diatas menunjukkan betapa islam memandang seks sebagai sesuatu yang moderat sebagaimana karakteristik dari islam itu sendiri. Ia tidaklah dilepas begitu saja sehingga manusia bisa berbuat sebebas-bebasnya dan juga tidak diperketat sedemikian rupa sehingga menjadi suatu pekerjaan yang membosankan.

Hubungan seks yang baik dan benar, yang tidak melanggar syariat selain merupakan puncak keharmonisan suami istri serta penguat perasaan cinta dan kasih sayang diantara mereka berdua maka ia juga termasuk suatu ibadah disisi Allah swt, sebagaimana sabda Rasulullah saw,”..dan bersetubuh dengan istri juga sedekah. Mereka bertanya,’Wahai Rasulullah, apakah jika diantara kami menyalurkan hasrat biologisnya (bersetubuh) juga mendapat pahala?’ Beliau menjawab,’Bukankah jika ia menyalurkan pada yang haram itu berdosa?, maka demikian pula apabila ia menyalurkan pada yang halal, maka ia juga akan mendapatkan pahala.” (HR. Muslim)


Diantara variasi seksual yang sering dibicarakan para seksolog adalah oral seks, yaitu adanya kontak seksual antara kemaluan dan mulut (lidah) pasangannya. Tentunya ada bermacam-macam oral seks ini, dari mulai menyentuh, mencium hingga menelan kemaluan pasangannya kedalam mulutnya.

Hal yang tidak bisa dihindari ketika seorang ingin melakukan oral seks terhadap pasangannya adalah melihat dan menyentuh kemaluan pasangannya. Dalam hal ini para ulama dari madzhab yang empat bersepakat diperbolehkan bagi suami untuk melihat seluruh tubuh istrinya hingga kemaluannya karena kemaluan adalah pusat kenikmatan. Akan tetapi setiap dari mereka berdua dimakruhkan melihat kemaluan pasangannya terlebih lagi bagian dalamnya tanpa suatu keperluan, sebagaimana diriwayatkan dari Aisyah yang mengatakan,”Aku tidak pernah melihat kemaluannya saw dan beliau saw tidak pernah memperlihatkannya kepadaku.” (al Fiqhul Islami wa Adillatuhu juz IV hal 2650)

Seorang suami berhak menikmati istrinya, khususnya bagaimana dia menikmati berjima’ dengannya dan seluruh bagian tubuh istrinya dengan suatu kenikmatan atau menguasai tubuh dan jiwanya yang menjadi haknya untuk dinikmati maka telah terjadi perbedaan pendapat diantara para ulama kami, karena tujuan dari berjima’ tidaklah sampai kecuali dengan hal yang demikian. (Bada’iush Shona’i juz VI hal 157 - 159, Maktabah Syamilah)

Setiap pasangan suami istri yang diikat dengan pernikahan yang sah didalam berjima’ diperbolehkan untuk saling melihat setiap bagian dari tubuh pasangannya hingga kemaluannya. Adapun hadits yang menyebutkan bahwa siapa yang melihat kemaluan (istrinya) akan menjadi buta adalah hadits munkar tidak ada landasannya. (asy Syarhul Kabir Lisy Syeikh ad Durdir juz II hal 215, Maktabah Syamilah)

Dibolehkan bagi setiap pasangan suami istri untuk saling melihat seluruh tubuh dari pasangannya serta menyentuhnya hingga kemaluannya sebagaimana diriwayatkan dari Bahz bin Hakim dari ayahnya dari kakeknya berkata,” Aku bertanya,’Wahai Rasulullah aurat-aurat kami mana yang tutup dan mana yang kami biarkan? Beliau bersabda,’Jagalah aurat kamu kecuali terhadap istrimu dan budak perempuanmu.” (HR. tirmidzi, dia berkata,”Ini hadits Hasan Shohih.”) Karena kemaluan boleh untuk dinikmati maka ia boleh pula dilihat dan disentuhnya seperti bagian tubuh yang lainnya.

Dan dimakruhkan untuk melihat kemaluannya sebagaimana hadits yang diriwayatkan Aisyah yang berkata,”Aku tidak pernah melihat kemaluan Rasulullah saw.” (HR. Ibnu Majah) dalam lafazh yang lain, Aisyah menyebutkan : Aku tidak melihat kemaluan Rasulullah saw dan beliau saw tidak memperlihatkannya kepadaku.”

Didalam riwayat Ja’far bin Muhammad tentang perempuan yang duduk dihadapan suaminya, di dalam rumahnya dengan menampakkan auratnya yang hanya mengenakan pakaian tipis, Imam Ahmad mengatakan,”Tidak mengapa.” (al Mughni juz XV hal 79, maktabah Syamilah)

Oral seks yang merupakan bagian dari suatu aktivitas seksual ini, menurut Prof DR Ali Al Jumu’ah dan Dr Sabri Abdur Rauf (Ahli Fiqih Univ Al Azhar) boleh dilakukan oleh pasangan suami istri selama hal itu memang dibutuhkan untuk menghadirkan kepuasan mereka berdua dalam berhubungan. Terlebih lagi jika hanya dengan itu ia merasakan kepuasan ketimbang ia terjatuh didalam perzinahan.

Hal itu dikarenakan yang keluar dari kemaluan adalah madzi dan mani. Madzi adalah cairan berwarna putih dan halus yang keluar dari kemaluan ketika adanya ketegangan syahwat, hukumnya najis. Sedangkan mani adalah cairan kental memancar yang keluar dari kemaluan ketika syahwatnya memuncak, hukumnya menurut para ulama madzhab Hanafi dan Maliki adalah najis sedangkan menurut para ulama Syafi’i dan Hambali adalah suci.

Mufti Saudi Arabia bagian Selatan, Asy-Syaikh Al`Allamah Ahmad bin Yahya An-Najmi berpenapat bahwa isapan istri terhadap kemaluan suaminya (oral seks) adalah haram dikarenakan kemaluannya itu bisa memancarkan cairan (madzi). Para ulama telah bersepakat bahwa madzi adalah najis. Jika ia masuk kedalam mulutnya dan tertelan sampai ke perut maka akan dapat menyebabkan penyakit.

Hal itu dikarenakan yang keluar dari kemaluan adalah madzi dan mani. Madzi adalah cairan berwarna putih dan halus yang keluar dari kemaluan ketika adanya ketegangan syahwat, hukumnya najis. Sedangkan mani adalah cairan kental memancar yang keluar dari kemaluan ketika syahwatnya memuncak, hukumnya menurut para ulama madzhab Hanafi dan Maliki adalah najis sedangkan menurut para ulama Syafi’i dan Hambali adalah suci.

Adapun Syeikh Yusuf al Qaradhawi memberikan fatwa bahwa oral seks selama tidak menelan madzi yang keluar dari kemaluan pasangannya maka ia adalah makruh dikarenakan hal yang demikian adalah salah satu bentuk kezhaliman (diluar kewajaran dalam berhubungan).
Dampak Positif dan Negatif?

Dampak positif dari oral seks ini jika dilakukan dengan sukarela oleh pasangan suami istri tentunya akan menambah kenikmatan dalam berhubungan intim dan pada gilirannya dapat menjaga keharmonisan rumah tangga. Untuk itu pasangan suami istri harus mengkomunikasikan masalah ini dengan baik, agar tidak ada pihak yang merasa terpaksa.

Para seksolog mengkategorikan oral seks kedalam permainan seks yang aman, selama betul-betul dijamin kebersihan dan kesehatannya, baik mulut ataupun kemaluannya. Akan tetapi kemungkinan untuk terjangkitnya berbagai penyakit manakala tidak ekstra hati-hati didalam menjaga kebersihannya sangatlah besar.

Sumber :
Berhubungan Oral Suami-Istri

WHY IS EDUCATION SO IMPORTANT?

When I started thinking regarding why education is so primary, I remembered my school years, the grounding years of anyones education. I went down memory lane to remember all my teachers, my school subjects, the study and the play! I never really hated school. But I have seen numerous who hate going to school; I have had numerous friends who didn’t like the idea of studying in classrooms.

Numerous of you ought to have unwillingly entered your school gates. . . . But all of us acknowledge this dislike never lasts long. We soon get started loving school and it’s when it’s time to leave school that we are in tears. . . .

Numerous school life all regarding? Numerous all regarding laying the foundation of our education. Numerous a place to grasp why education is so primary and how primary Numerous! Numerous an establishment, where we learn to read and write. School transforms kids into literate persons.

Numerous where we get our fundamentals cleared and at the point of leaving school, we are all set to soar high in life, enter the modern world in pursuit of our dreams. The first thing that strikes me regarding education is cognition benefit. Education gives us the cognition of the world around us. It develops in us a perspective of viewing life. It assists us build opinions and have points of view on everything in life.

Numerous debate over the subject of whether education is the solitary thing that gives cognition.

Numerous say, education is the process of profiting info regarding the surrounding world while cognition is a thing very different.

Numerous partly right. But the conversion of info to cognition is possible because of education. Education makes us competent of interpreting justifiedly the things sensed. Education is not regarding lessons and poems in textbooks.

Numerous regarding the lessons of life. The words ‘cultivate’ and ‘civilize’ are nearly synonymous to the word ‘educate’. That says it! Education is primary as it teaches us the right behavior, the good manners thence making us civilized. It teaches us in which way to lead our lives. Education is the basis of culture and civilization.

Numerous instrumental in the development of our values and virtues. Education cultivates us into mature persons, persons competent of planning for our futures and taking the right decisions. Education arms us with an clear or deep perception to consider our lives and learn from each experience. The future of a nation is safe in the hands of educated persons. Education is primary for the economical growth of a nation. It fosters principles of equality and socialism. Education forms a help strategy for natural abilities and qualities to excel in life.

Numerous the backbone of society. Education is primary because it equips us with all that is necessitated to make our dreams becoming a reality. Education opens doors of brilliant career chances. It fetches better chances in career and growth.

Numerous employer of today requires his potential workers to be well educated. He requires skillfulness. So, education becomes an eligibility criterion for employment into any sector of the industry. We are rewarded for exercising the skillfulness required for the field we campaign. We are weighed in the market on the basis of our instructional accomplishments and how well we can utilize them. Education is essential as it paves the path leading to disillusionment. It wipes out all the wrong beliefs in our minds. It assists invent a clear picture of everything around us and we no more stay in confusion regarding the things we learn. Education brings up questions and also devises ways to find adequate for the purpose answers to them. Education is regarding knowing that everything has a science to it, it’s regarding learning to reason everything till each question meets its answer. Education can lead us to enlightenment. Numerous education that builds in Numerous person, a self-confidence to take decisions, to face life and to receive successes and failures. It gradually imparts a sense of pride regarding the cognition one has and prepares him/her for life!

3 Penyebab Kejenuhan Kerja

TRIBUNNEWS.COM - Setiap pagi, Anda butuh upaya superkeras untuk bangkit dan berangkat ke kantor. Bahkan, mencari motivasi untuk pergi ke kantor pun merupakan tantangan tersendiri. Meski Anda tidak mencintai pekerjaannya, tetapi Anda pun tidak mencintainya. Awal-awal mulai bekerja sih seru-seru saja, tetapi kok, sekarang jadi begini, ya?

Ini bisa jadi merupakan masalah kejenuhan di tempat kerja. Kadang, Anda mungkin tak akan menyadarinya hingga beberapa lama. Keluar dari kejenuhan ini kadang menjadi hal yang sangat sulit. Berikut ini adalah 3 penyebab terumum kejenuhan bekerja:


1. Sangat kelelahan
Saat ini seperti ada pergerakan yang membuat semua karyawan harus bisa multitasking. Anda pun jadi lebih sering pulang larut, mengerjakan tugas yang kadang Anda rasa tidak masuk akal, tanggung jawab yang sangat tinggi, tetapi tanpa ganjaran yang setimpal pula. Meski awalnya tantangan yang diberikan membuat Anda terpacu, tetapi lama kelamaan pekerjaan ekstra itu membuat Anda mulai merasa tidak sepadan. Anda pun mulai merasa kelelahan dengan tuntutan tinggi dan tekanan konstan dari perusahaan (atau bos Anda).

Ketimbang mencoba tersenyum dan menerima saja, coba bicarakan dengan bos Anda. Manager Anda bisa jadi sama sibuknya dengan Anda dan tak menyadari bahwa Anda mulai merasa hampa. Dengan berbicara kepada atasan mengenai tekanan pekerjaan dan solusi untuk menguranginya, siapa tahu sebagian beban pekerjaan Anda bisa diberikan kepada orang lain dan mendapatkan saran yang membantu kurangi stres.

2. Arah yang tak jelas
Anda sudah berada di posisi kerja yang sekarang untuk sekian lama, tetapi tidak ada kejelasan Anda akan diangkat menjadi karyawan tetap atau mungkin meningkat posisi ke jabatan yang lebih tinggi. Anda pikir Anda sudah membuktikan diri, tetapi entah mengapa selalu kolega Anda yang mendapatkan proyek high profile, perhatian si bos, serta promosi.

Dalam situasi tipe ini, akan lebih bijaksana untuk menera ulang diri untuk bisa mengerti halangan potensial yang mencegah Anda untuk lebih maju secara profesional. Contoh, apakah Anda memiliki kemampuan yang tepat untuk menangani tanggung jawab lebih, atau bisakah Anda meningkatkan kemampuan kunci? Apakah Anda memiliki reputasi positif di tempat Anda bekerja, dan apakah ada permintaan atasan yang tak sanggup Anda penuhi atau bertabrakan dengan kolega? Pernahkan si atasan memberi tahu kelemahan Anda dan adakah upaya Anda untuk menanggulanginya?

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tadi bisa membantu Anda menentukan langkah ke depan. Anda juga bisa bicara dengan bos untuk mengekspresikan ketertarikan Anda untuk lebih maju dan mencari tips bagaimana melakukannya (tentu dengan asumsi bos Anda adalah orang yang bisa diajak bekerja sama).

3. Pekerjaan yang Anda lakukan membosankan
Pada awalnya, Anda mencintai variasi dan kecepatan kerja yang ada di hadapan. Namun saat pekerjaan berulang itu membuat Anda ingin marah dan sedih, bisa jadi Anda sudah tak lagi menikmati pekerjaan yang Anda kerjakan, dan ini menyulitkan untuk mencari tahu apa langkah berikutnya.

Cara yang paling baik untuk memulai adalah dengan membuat daftar aspek-aspek pekerjaan yang memberi Anda kepuasaan. Contohnya, jika Anda senang menyusun jadwal acara, pertimbangkan apakah ada kesempatan lain untuk mengaplikasikan kemampuan itu di dalam perusahaan. Terlibat dalam organisasi acara yang dilangsungkan perusahaan setiap beberapa bulan sekali, seperti piknil pegawai, bisa mendorong semangat dan memperbarui antusiasme karier. Pertimbangkan pula untuk menjadi relawan di luar pekerjaan Anda untuk mendalami kebisaan Anda. Mengaplikasikan bakat Anda dalam cara yang menyenangkan bisa membantu mengubah cara pandang Anda terhadap kantor.

Terutama, ingat bahwa kebosanan di kantor tidak selalu berarti negatif. Faktanya, mencapai titik datar profesional bisa menjadi katalis terhadap perubahan positif, meningkatkan kepuasan bekerja. Dengan mempertimbangkan minat dan mengambil tindakan untuk mencari kepuasan saat bekerja bisa bantu Anda bersemangat berangkat bekerja.

Terjerumus Era Globalisasi

Persoalan besar yang dihadapi negara dan bangsa-bangsa berkembang di era kontemporer ini, salah satunya adalah globalisasi. Realitas menunjukkan,
pendesabuanaan yang digagas negara Barat telah melahirkan problem –bahkan dilema –yang begitu rumit. Pada satu pihak, globalisasi merupakan realitas yang telah menggurita ke mana-mana yang nyaris tidak mungkin dihindari oleh bangsa mana pun. Namun di pihak lain kehadirannya selalu meminta korban pada bangsa dan masyarakat lokal di berbagai negara, termasuk di Indonesia.
Pada awalnya, ada anggapan globalisasi akan mempersatukan masyarakat dunia melalui penciutan waktu, ruang, dan hilangnya batas negara.
Melalui itu, solidaritas baru diharapkan muncul berkembang dan sekat-sekat primordialisme dan sejenisnya akan kian terpupus sehingga akan membawa kesejahteraan bagi kehidupan seluruh umat manusia di berbagai belahan dunia. Namun harapan itu tak kunjung datang. Sebaliknya, masyarakat-masyarakat miskin kian terpinggirkan. Justru –menurut Sindhunata –dengan alasan globalisasi yang sering diartikan dengan perdagangan bebas, dunia-dunia maju menelan harta-harta negara-negara miskin. Lebih dari itu, globalisasi bukan semata persoalan semata perdagangan bebas, tapi juga soal pandangan hidup yang meremehkan dari mereka yang kuat terhadap mereka yang lemah.
Pendesabuanaan berkembang menjadi suatu paradigma yang sampai batas tertentu mengembangkan kolonialisme model baru. Dalam sisi itu, globalisasi juga membuka peluang yang bisa mengantar manusia ke dalam persaingan sengit, merobek-robeknya dengan kebendaan, dan konsumerisme.
Kehidupan di sekitar memperlihatkan seutuhnya gejala tersebut. Masyarakat –sampai derajat tertentu –telah menjadi makanan empuk globalisasi. Salah satu akar penyebabnya, karena lemahnya daya saing bangsa. Sebagaimana dilaporkan Bank Dunia , posisi daya saing Indonesia di antara 30 negara yang berpenduduk di atas 20 juta menempati urutan ke 28. Artinya, hal itu secara keseluruhan menunjukkan rendahnya daya saing bangsa Indonesia dibandingkan 30 negara lain. Parameter penilaian yang digunakan mengandung aspek-aspek yang sangat erat kaitannya dengan kinerja perguruan tinggi, seperti misalnya kontribusi sains, teknologi dan SDM terhadap dunia usaha atau perilaku inovatif perusahan.
Dalam ungkapan yang lebih luas, ukuran yang digunakan terkait erat dengan pendidikan.
Dalam kondisi itu, masyarakat hanya menjadi konsumen pasif  yang tanpa daya dan kekuatan. Semua itu muncul dari beragam akar penyebab yang pada ujungnya berpulang pada rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia secara umum. Pendidikan nyaris telah kehilangan misinya untuk mengantar peserta didik menjadi manusia yang having dan sekaligus being. Pada sisi itu urgensi mengkaitkan pengembangan pendidikan dan globalisasi menjadi keniscayaan yang sama sekali tidak bisa diabaikan.